Sempat Dukung Serangan Rudal AS yang Tewaskan Jenderal Iran, Kini Perdana Menteri Israel Terdiam

Sempat Dukung Serangan Rudal AS yang Tewaskan Jenderal Iran, Kini Perdana Menteri Israel Terdiam

Hasil gambar untuk perdana menteri israel"


Digitalberita - Israel sempat menyatakan dukungannya pada serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS).

Serangan rudal diluncurkan oleh Amerika Serikat melalui pesawat Nirawak (drone) di Komplek Bandara Baghdad, Irak.

Serangan tersebut menewaskan 7 orang, termasuk Komandan pasukan Quds Iran Qassem Soleimani.

Pasca serangan yang menewaskan Komandan Iran, ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas.

Serangan rudal yang diperitahkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump ini membuat terjadinya perang kata-kata yang dilontarkan antara kedua negara lewat media sosial.

Seperti yang diberitakan Pikiran-Rakyat.com, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu  mengatakan bahwa Presiden Donald Trump  pantas mendapatkan pujian.

"Presiden Trump pantas mendapatkan semua pujian karena bertindak cepat, dengan tegas dan tegas. Israel mendukung Amerika Serikat dalam perjuangannya yang adil untuk perdamaian, keamanan dan pertahanan diri," ujar Netanyahu.


Namun, tampaknya dukungan Israel pada tindakan Amerika, mendapatkan banyak kecaman termasuk kecaman dari negara Iran.

Komunitas Yahudi Chabad meminta perwakilan di seluruh dunia untuk meningkatkan kewaspadaan keamanan akibat serangan AS dan dukungan Israel.

Pasalnya, mereka takut akan serangan balasan yang diluncurkan oleh Iran.

Potensi ancaman yang bisa didapatkan Israel  adalah dari pasukan milisi yang didukung Iran di tiga perbatasannya, Israel berusaha untuk menjaga keheningan ditengah-tengah krisis timur tengah.

Untuk mengantisipasi ancaman atau serangan yang dikirimkan oleh Iran, kedutaan dan pasukan diberikan perintah dalam siaga tinggi setelah serangan udara AS menewaskan Komandan tertinggi Iran.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu  dalam pertemuannya dengan Kabinet keamanan Israel pada Senin, 6 Januari 2019 menyatakan untuk menjauhi pembunuhan yang dilakukan AS.

"Ini bukan acara Israel tetapi acara Amerika, Israel tidak perlu diseret kedalamnya" ujar Netanyahu, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman The Globe and Mail.

Dengan pasukan Iran yang dikerahkan di Suriah dan Milisi yang dipersenjatai oleh Iran di perbatasannya dengan Libanon dan Gaza, Israel menjadi sekutu AS yang paling rentan terkena imbas balasan Iran.


Perdana Menteri Israel Netanyahu sendiri merupakan pendukung kuat Presiden Trump dan taktinya yang keras.

Tetapi Netanyahu sendiri tidak ingin terlalu memprovokasi serangan terhadap Iran dan membiarkan Israel terikat dengan konflik imbas dari pembunuhan Qassem Solaimani tersebut.

Apalagi, sebentar lagi akan digelar pemilihan Perdana Menteri Israel baru pada bulan Maret 2020 mendatang.

Oleh karena itu, Netanyahu tidak ingin pemilih Israel berpikir tindakannya telah meningkatkan ancaman Iran.

Pendekatan low-profile yang di buat oleh Netanyahu tampaknya berhasil sejauh ini, di media Israel sendiri tidak ada berita mengenai dukungannya terhadap serangan di Israel.

Netanyahu juga memerintahkan para menteri kabinetnya untuk tidak membuat pernyataan tentang langkah AS membunuh Komandan Iran.

Dilansir dari : Detik.com

Post a Comment

0 Comments